Apa yang Membezakan Muslim Moderat dan Muslim Radikal

Apa yang Membezakan Muslim Moderat dan Muslim Radikal?

Oleh: John L. Esposito & Dalia Mogahed

Washington, D.C. – Kalau bertanyakan kepada para pembuat dasar luar negara di negara mana sekalipun, bilakah Barat dapat menang dalam usaha perang melawan terror? Sudah pasti jawaban yang mereka berikan, “Ketika dunia Islam menolak radikalisme.”

Siapa gerangan yang disebut kaum Muslim Radikal itu? Apa yang menyebabkan kemarahan mereka? Semuanya akan menjawab dengan nada sama : kaum radikal adalah kaum fundamentalis agama; mereka miskin; mereka adalah orang-orang yang putus asa dan penuh kebencian. Tetapi semua teori itu salah.

Berdasarkan Bancian Pendapat Dunia yang baru dari Gallup (badan penyelidikan tertua di Amerika) yang melakukan lebih dari 9000 wawancara di sembilan negara Muslim, kami menemukan jawapan yang berbeza dengan pendapat sebelum ini, kaum Muslim Radikal ternyata memiliki banyak persamaan dengan saudara mereka yang moderat.

Jika Barat ingin membendung para ekstremis, dan memperdayakan majoriti Muslim Moderat, maka perkara pertama yang harus dilakukan adalah mengenali siapa lawannya.

Kesamaan dasar

Kerana para teroris sering menggunakan ajaran Islam demi tujuan-tujuan mereka sendiri, para ahli dan politikus di Barat kadang-kadang menggambarkan Islam sebagai sebuah agama terorisme. Mereka sering menyalahkan semangat beragama sebagai penyebab pandangan yang radikal dan penuh kekerasan. Nyatanya, data menunjukkan keputusan yang berbaza: tidak ada perbezaan ketara antara mereka yang moderat dan radikal. Kaum radikal tidak lebih bertaqwa dibandingkan dengan kaum moderat.

Kaum Radikal Kaya

Bukan rahsia lagi kalau banyak negara dunia Muslim yang menderita kemiskinan dan tingkat pendidikan yang rendah. Apakah dengan demikian, kaum radikal lebih miskin daripada saudara mereka sesama Muslim? Kami menemukan hal yang sebaliknya: Ada perbezaan antara kaum radikal dan moderat dalam perihal kekayaan dan pendidikan, tetapi kaum radikallah yang lebih kaya dan berada di bangku sekolah lebih tinggi.

Masa Depan Penuh Harapan

Setiap kali seorang pelaku bom bunuh diri menyelesaikan misi mautnya, tindakan tersebut sering dikaitkan dengan rasa putus asa—ketidakmampuan untuk memperolehi pekerjaan, memperoleh kekayaan, atau menyara keluarga. Tetapi mereka yang lebih radikal berpolitik tidak merasa lebih “putus asa” daripada masyarakat kebanyakan.

Lebih banyak kaum radikal yang menggambarkan kepuasan mereka dengan keadaan kewangan dan kualiti kehidupan mereka daripada saudara-saudara mereka yang moderat, dan kebanyakan dari mereka memiliki harapan untuk hidup lebih baik pada tahun-tahun mendatang.

Penghargaan yang Ekstrem

Perang melawan teror didasari atas satu pertanyaan kunci: mengapa mereka membenci kami? Jawaban yang umum dari Washington adalah kaum Muslim radikal membenci cara hidup kita, kemerdekaan kita, dan demokrasi kita. Tidak juga. Baik mereka yang moderat mahupun radikal di dunia Muslim sama-sama mengagumi Barat, terutama dalam kemampuan teknologi, sistem demokrasi dan kebebasan berpendapat.

Jalan ke Masa Depan

Kalau begitu, apa yang membezakan seorang Muslim moderat dengan seorang Muslim radikal? Walaupun hampir semua umat Muslim percaya bahawa Barat seharusnya lebih menunjukkan rasa hormat terhadap Islam, kaum radikal lebih cenderung merasa bahawa Barat telah mengancam dan berusaha mengatur cara hidup mereka.

Kaum Moderat, lebih berkeinginan untuk membangun hubungan dengan Barat melalui pembangunan ekonomi. Perbezaan tanggapan ini memberikan suatu kesempatan kunci kepada para pembuat dasar untuk mengembangkan berbagai-bagai strategi dalam mencegah arus utama kaum moderat tergelincir jauh, mengurangi kekuatan pengaruh mereka, yang sudah tentu akan membahayakan kita.

Catatan: Para responden yang mengatakan bahawa Islam tidak membenarkan peristiwa 11/ dikelompokkan sebagai Muslim Moderat. Para responden yang mengatakan bahawa Islam membenarkan peristiwa 11/9 dikelompokkan sebagai Muslim Radikal. Data bancian pendapat ini diperolehi pada tahun 2005-06 dari Bangladesh, Mesir, Indonesia, Iran, Yordania, Lebanon, Maroko, Turki, dan Arab Saudi. Lebih kurang 1000 wawancara dari rumah ke rumah dilakukan di setiap negara.

** John L. Esposito adalah seorang profesor agama dan urusan internasional serta Pengarah Prince Alwaleed Bin Talal Center for Muslim-Christian Understanding di Georgetown University. Dalia Mogahed adalah Pengarah Eksekutif Kajian Muslim Gallup Organization. Artikel ini disebarluaskan oleh Common Ground News Service (CGNews) dan dapat dibaca di http://www.commongroundnews.org.

Sumber: Foreign Policy, November 2006, http://www.foreignpolicy.com

AIDC menterjemah artikel tulisan John L. Esposito & Dalia Mogahed, ditulis pada 01 Disember 2006. Artikel asal klik di sini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: